Saturday, 2 July 2011

awas bahaya pesikopat (2)

• Psikopat di tempat kerja
Dr. John Clarke, yang bertahun-tahun menjadi psikolog kriminal, mengingat hari di mana dia seketika sadar bahwa mungkin ada sejumlah psikopat di jutaan kantor di seluruh dunia.

"Saya sedang menyampaikan kuliah psikologi kejahatan dan memberikan daftar ciri psikopat. Saat selesai, seorang perempuan menghampiri dan berkata `anda baru saja menggambarkan bos saya`," katanya kepada Kantor Berita Jerman (DPA).

Clarke menemukan bahwa psikopat tidak hanya ada di penjara, di ruang sidang pengadilan, atau pada kisah "thriller".

Psikopat, baik laki-laki maupun perempuan, sedang berencana licik di tempat kerja, di seluruh dunia.

Penelitian menyatakan bahwa satu persen populasi orang dewasa yang bekerja adalah psikopat di tempat kerjanya.

Psikopat seperti itu ada di kantor besar maupun kecil, dia ada di ruang rapat dewan maupun di lantai-lantai toko.

Di sanalah, menurut Clarke, mereka bersembunyi; lewat berbohong, mencurangi, mencuri, mememanipulasi, mengorbankan dan menghancurkan para rekan kerja, serta kesemuanya tanpa rasa salah maupun penyesalan.

Lebih buruk lagi, ia menilai, mereka yang disebut organisasional psikopat, berkembang pesat di dunia bisnis, di mana kezaliman dan nafsu mereka tidak saja mereka salah-artikan sebagai ambisi dan keterampilan memimpin, namun juga sebagai sesuatu yang dihargai melalui promosi, bonus dan kenaikan upah.

"Ambil contoh iklan lowongan kerja. Iklan itu, misalnya, menyebut `anda tahu anda adalah yang terbaik, anda mampu mempengaruhi orang, apapun akan anda lakukan untuk memenangkan organisasi`. Ini jenis pernyataan yang menarik bagi banyak orang, teristimewa lagi untuk psikopat," katanya.

Ia menimpali, "Organisasi yang memasang iklan seperti ini, secara tidak langsung mengundang psikopat untuk melamar kerja."

Dalam wawancara rekrutmen, psikopat tampil mempersona sebagai orang yang cocok untuk lowongan itu.

"Mereka adalah pembicara yang sangat bagus dan kadang mengarang riwayat hidupnya, sehingga pewawancara terperdaya. Mereka terlihat mempersona, cerdas dan piawai, tapi jika anda sedikit saja gali lebih dalam, anda akan tahu seperti apa mereka sebenarnya," kata Clarke.

Psikopat tempat kerja akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kekuasaan, status dan upah yang mereka inginkan.

"Mereka berpikir layaknya psikopat kriminal. Mereka berusaha sekeras-kerasnya demi mereka sendiri. Perbedaan keduanya adalah, psikopat kriminal menghancurkan korban secara fisik, sedangkan psikopat tempat kerja menghancurkan korbannya secara psikologis," ujarnya.

Psikopat tempat kerja mencari pertemanan dengan orang yang punya kedudukan lebih tinggi agar dapat melindungi mereka.

Mereka akan merongrong sekaligus berteman dengan bos dan berusaha meniti kedudukan di perusahaan.

Mereka yang diincar psikopat akan menerima akibat yang menghancurkan.

"Mereka merampas keyakinan diri maupun rasa mampu seseorang. Mereka menghilangkan rasa percaya orang terhadap orang lain. Korban menjadi dingin, sinis, getir dan hampir tak mampu bekerja," ujarnya menegaskan

Bagaimana di bidang yang lain? Penulis berpendapat tidak hanya didunia kerja. Psikopat ada dimana-mana. Mereka bekerja dengan sangat halus dan rapi sekaligus kotor untuk mengalahkan orang atau kelompok yang dianggap musuh baginya. Makin ketatnya persaingan kehidupan serta lemahnya jiwa profesionalisme di lingkungannya akan makin menyuburkan psikopati ini, biarpun beberapa ahli berpendapat bahwa penyimpangan kejiwaan ini karena bawaan lahir.

Di semua lini kehidupan, di semua area yang disitu banyak persaingan, dapat dipastikan ‘virus’ psikopat akan tumbuh subur. Perhatikan bagaimana seorang atau suatu kelompok secara halus m,engalahkan kelompok yang lainpada situasi tertentu yang mengakibatkan hancurnya suatu system atau eksisnya seseorang pada usaha tertentu. Disitulah psikopat bermain. Mereka sangat cerdas dan licik.

Psikopat bukan profokator, mereka lebih halus, lebih lihai, dan lebih membahayakan dari itu. Psikopat memiliki naluri yang tepat, kapan harus bertindak dan ‘bermain’. Kapan situasi itu membahayakan dan kapan menguntungkan dirinya. Dan dia sangat menikmati permainan itu.

Dalam penampilan, psikopat tampil sebagai seorang yang necis, perlente, dermawan dan segala sandiwara lain untuk ‘mengamankan’ perannya. Mr. Clarke yang bergelar doktor (PhD) di bidang psikologi dari "University of Sydney", Australia, adalah penulis buku "The Pocket Pscyho". Mengatakan:
psikopat tampil mempersona. Mereka adalah pembicara yang sangat bagus dan kadang mengarang riwayat hidupnya, sehingga pewawancara terperdaya. Mereka terlihat mempersona, cerdas dan piawai, tapi jika anda sedikit saja gali lebih dalam, anda akan tahu seperti apa mereka sebenarnya," kata Clarke.

Anehnya psikopat tidak merasa sebagai orang yang jahat. Dia menganggap peran yang dijalaninya sebagai suatu kewajaran dan bagian dari dinamika kehidupannya. Psikopat tidak pernah merasa bersalah atau menyesal, meskipun tindakannya atau pembiarannya terhadap sesuatu menimbulkan banyak korban dan malapetaka. Karena dia pemain psycho, atau sudah bawaan bahwa ada yang salah dengan kejiwaannya.

No comments:

Post a Comment